Sabtu, 28 Juli 2012

Tentangnya....


Tentangnya, yang selalu ku rindu.
Ku nanti di sudut kota tanpa arah, tak lelah menanti derap langkah berirama cinta darinya, Ku beritakan padda mentari bahwa lelaki ku akan kembali, ku ajak mentari mempersiapkan diri menyambut ia dengan kehangatan sinarnya, dengan senyum cerah tanpa mendung hari ini,,,

Bahagia tentu saja ku rasa hari ini, waktu telah lama membuatku bersabar untuknya dan kini aku akan merangkul kembali bahagiaku bersamanya.
Aku tak sabar menantinya, degup jantung semakin cepat seakan berlari cepat menuju garis akhir.

Aku menantinya pada tempat dimana kita memulai kisah,
Kuitari semua sudut, aku mulai gelisah, semakin gelisah.
Detik, menit, dan tak tahu  telah berapa lama aku menanti, entah kenapa ia tak kunjung tiba namun aku tetap menantinya.
sepertinya waktu meintaku untuk kembali bersabar karena  hari ini ia tak kembali menemuiku, mungkin besok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau bahkan mungkin tahun depan,, Entahlah…….
Tapi Aku masih tetap menantinya disudut kota ini dengan seulas senyum cinta yang telah ku persiapakn untuknya.
Semoga ia kembali membawa hadiah cinta yang lebih besar untukku!!!!



Sabtu, 17 Desember 2011

CARSINOMA OVARIUM


I.           PENGERTIAN
Merupakan tumor ganas pada indung telur. Tumor ganas ovarium merupakan 20% dari semua keganasan alat reproduksi wanita (Sarwono, Ilmu Kandungan, 1999).

II.        ETIOLOGI
  •   Penyebab kanker ovarium tidak dikenal 
  •   Ciri pasien yang terbukti dengan peningkatan risiko untuk kanker ovarium epitel adalah :
-       Ras kulit putih menopause pada usia yang lebih tua. Riwayat kanker overium atau endometrium pada keluarga dan interval ovulasi yang panjang yang tidak disela oleh kehamilan.
-        Sekitar 1% dari kanker ovarium epitel adalah bawaan
-         Prevalensi kanker ovarium meningkat pada wanita yang tidak kawin yang para.
-  Zat etiologik dapat memasuki rongga pertionium melalui saluran genital bagian bawah. Contohnyapenggunaan talk yang terkontaminasi. Asites secara perineal telah dikaitkan dengan terjadinya kanker ovarium epitel.

III.     TINGKATAN
Sistem tingkatan dari FIGO untuk karsinoma primer dari ovarium (Federasi Ginekologi dan Obstetri Internasional, 1987).
Tingkat I         : Pertumbuhan terbatas pada ovarium-ovarium
Tingkat IA   : Pertumbuhan terbatas pada satu ovarium, asites tidak ada, tidak ada tumor pada permukaan luar, kapsul utuh.
Tingkat IB    : Pertumbuhan terbatas pada permukaan luar, asites tidak ada, tidak ada tumor pada permukaan luar, kapsul utuh
Tingkat IC     : Tumor tingkat IA dan IB, tetapi telah ada tumor pada permukaan luar dari salah satu atau kedua ovarium.
Tingkat II         : Tumor mengenai satu atau kedua ovarium disertai perluasan ke pelvis.
Tingkat IIA      : Meluas dan metastase ke uterus dan saluran telur.
Tingkat IIB     : Meluas ke jaringan pelvis lainnya
Tingkat IIC    : Tumor tingkat IIA atau IIB, tetapi telah ada tumor pada permukaan salah satu ataukedua ovarium.
Tingkat III      : Tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan pertumbuhan diperitonium luar pelvis dan kelenjar limfe retro peritonium atau inguinal positif, metastase dipermukaan hati sebanding tingkat III, tumor sebatas pada pervis minor tetapi kecil atau omentum.
Tingkat IIIA   : Tumor secara kasar terbatas dalam pelvis minor dengan kelenjar limfe negatif, tetapi secara histologi telah ada penyebaran mikroskopik ke permukaan peritonium abdomen.
Tingkat IIIB    : Tumor pada satu atau kedua ovarium yang secara histologis telah ada penyebaran ke permukaan peritonium abdomen, tidak ada yang berdiameter lebih dari 2 cm, kelenjar limfe negatif.
Tingkat IIIC    : Sebaran ke abdomen berdiameter lebih besar dari 2 cm dan kelenjar retroperitonium atau inguinal positif.
Tingkat IV      : Pertumbuhan melibatkan suatu atau kedua ovarium dengan metastase jauh : bila ada efusi pleura harus masuk tingkat IV, metastase parenkim hati sebanding tingkat IV.

IV.     GEJALA KEGANASAN OVARIUM STADIUM LANJUT
  • Teraba tumor diabdomen kistik atau padat 
  •   Pergerakan terbatas karena menyebar ke jaringan sekitar 
  •   Terdapat asites (cairan dalam abdomen) 
  •   Anak sebar dapat menyebabkan edema tungkai bawah 
  •   Tubuh bagian atas kurus dengan penampilan perut buncit.
V.        DIAGNOSIS
Diagnosis didasarkan atas 3 gejala atau tanam yang biasanya muncul dalam perjalanan penyakitnya yang sudah agak lanjut.
a.       Gejala desakan yang dihubungkan dengan pertumbuhan primer dan infiltrasi ke jaringan sekitar.
b.      Gejala diseminasi/penyebaran yang diakibatkan oleh implantasi peritoneal dan bermanifestasi sebagai defiminisasi, maskulinisasi dan bermanifestasi adanya asites.
c.   Gejala hormonal yang bermanifestasi sebagai defeminisasi, maskulinisasi atau hiperestrogenisme : intensitas gejala ini sangat bervariasi dengan tipe histologik tumor dan usia penderita.
Pemeriksaan ginekologik dan palpasi abdomen akan mendapatkan tumor, pemakaian USG, CT Scan, laparatomi eksploratif disertai biopsi potong beku masih tetap merupakan prosedur diagnostik paling berguna.

VI.     KOMPLIKASI
Obstruksi usus merupakan komplikasi yang sering terjadi.

VII.  PROGNOSIS
Tergantung dari usia dan terutama luas proses keganasan di samping jenis histologik tumornya. Pada kasus dengan tingkat klinik T1 dan T2, AKH-5 taun sekitar 60% - 70%. Pada kasus dengan tingkatan lebih lanjut (T2 dan T3) dengan paliasi yang memadai dapat dicapai AKH-5 tahun antara 30% - 60%, sedangkan T4 harapan hidup untuk 5 tahun praktis tidak ada (0%)

Sabtu, 10 Desember 2011

Pria Cuma Butuh 8,2 Detik Buat Jatuh Cinta

Mulai saat ini, bagi Anda para wanita sebaiknya berhati-hatilah jika seorang kawan pria Anda memperhatikan mata Anda lebih dari 8,2 detik. Pasalnya, sudah dipastikan jika pria tersebut menaruh hati pada anda. Hasil studi terbaru mengungkapkan, pria hanya memerlukan waktu 8,2 detik.
Untuk jatuh cinta pada pandangan pertama. Sebaliknya, jika kurang dari empat detik sang pria telah mengalihkan pandangannya, artinya dia tak tertarik pada wanita tersebut. Faktanya, memang semakin lama seorang pria memandang wanita, maka akan lebih besar rasa ketertarikan yang muncul. Demikian dilansir Times of India.
Namun lain halnya dengan wanita karena sulit untuk ditebak. Wanita masih bisa menyembunyikan perasaannya. Meskipun tak menyukai tatapan seorang pria wanita bisa bertahan untuk menatap balik lawannya hingga waktu yang sama pada pertemuan pertama.
Berdasarkan penelitian itu, untuk menarik perhatian wanita, pria sering melakukan kontak mata untuk mengetahui kecocokan dengan incarannya. Sedangkan wanita jarang melakukan kontak mata dan lebih hati-hati bersikap dan tidak mudah untuk jatuh cinta.
Para peneliti melakukan dengan menggunakan kamera tersembunyi untuk merekam aktivitas 115 murid ketika saat berbicara dengan pujaannya. Setelah itu, responden yang tertangkap kamera akan dimintai pertanyaan untuk menilai ketertarikan lawan bicara.
Hasilnya, rata-rata pria akan menatap pujaannya yang mereka anggap menarik secara dalam selama 8,2 detik. Namun ketika lawan bicara tidak menarik, hanya dalam 4,5 detik mereka langsung mengalihkan pandangannya.





sumber: igaul.com

Jumat, 19 Agustus 2011

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG PEMBERIAN IMUNISASI TT


 BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari pembangunan nasional dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan, serta ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh  (Depkes RI, 2005). Keberhasilan Pembangunan Kesehatan sangat dipengaruhi oleh tersedianya sumber daya manusia yang sehat, terampil dan ahli serta disusun dalam satu program kesehatan dengan perencanaan terpadu yang didukung oleh data dan informasi epidemiologi yang valid (Depkes RI, 2005).
Salah satu indikator keberhasilan derajat kesehatan adalah dengan melihat angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) Indonesia masih tertinggi di Asia. Tahun 2007 kematian ibu melahirkan mencapai 307 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini 9,5 kali lebih besar dari Malaysia. Bahkan 2,5 kali lipat dari indeks Filipina (Anonim, 2009).
 Berdasarkan hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007. Angka Kematian ibu (AKI) yaitu sebanyak 307/ 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 35/ 1000 kelahiran hidup. Sedangkan di Provinsi NTB Angka Kematian Ibu tahun 2008 sebesar 92/100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi sebesar 72/1000 kelahiran hidup (SDKI, 2007).
Berdasarkan laporan WHO yang bekerja sama dengan Departemen Kesehatan RI, tetanus masih merupakan penyebab utama kematian dan kesakitan maternal dan neonatal. Kematian akibat tetanus di negara berkembang 135 kali lebih tinggi dibanding negara maju (Depkes RI – WHO, 2006).
 Penelitian Kesehatan Rumah Tangga menunjukkan bahwa penyebab kematian utama bagi bayi di Indonesia adalah tetanus neonatorum (9,8%), gangguan kelahiran sebelum waktunya (4,3%), dipteri, pertusis dan morbili (3,3%).  (Anonim, 2009). Sedangkan di wilayah Kota Mataram pada tahun 2009 ditemukan 1 kasus Tetanus Neonaturum dan  pada tahun 2010 meningkat menjadi 7 kasus Tetanus Neonaturum (Dikes Mataram 2010). Hal ini timbul sebagai akibat masih rendahnya cakupan pelayanan antenatal dan imunisasi Tetanus Toxoid (TT) selama kehamilan.
Tetanus dapat terjadi pada saat kehamilan maupun persalinan. Seseorang yang pernah terserang tetanus tidak akan memiliki kekebalan secara alami dan bisa terinfeksi lagi, karena itu penting dilakukan imunisasi (Azrul A, 2002). Imunisasi  TT diberikan kepada seorang wanita yang sedang hamil, antibodi yang terbentuk di tubuhnya dilewatkan ke janinnya. Antibodi ini melindungi bayi terhadap tetanus selama proses kelahiran dan selama beberapa bulan setelahnya, imunisasi TT juga melindungi ibu bayi terhadap tetanus (WHO, 2010).
Program imunisasi TT pada wanita hamil di Indonesia, biasanya diberikan 2 kali, karena dianggap belum terimunisasi secara sempurna (5 kali). WUS yang sekarang ada adalah generasi yang belum menjalani imunisasi lengkap Tetanus. TT pertama dapat diberikan sejak di ketahui positif hamil  dan TT yang kedua minimal 4 minggu setelah TT pertama (Azrul.A, 2002).
Berdasarkan data dari dinas kesehatan Kota Mataram tahun 2009, cakupan imunisasi Tetanus Toxoid TT1 sebesar 9156 orang (97,9%) dan cakupan TT2 sebesar 8613 orang (92,1%) dari 9350 ibu hamil, sedangkan pada tahun 2010, dari 9250 ibu hamil, cakupan imunisasi TT1 sebesar 8611 orang (93,1%) dan cakupan imunisasi TT2 sebesar 8133 orang (87,9%). Berdasarkan data cakupan imunisasi TT tersebut terdapat penurunan imunisasi TT pada tahun 2010 dan belum mencapai target yang ditentukan oleh Dinas Kesehatan NTB yaitu sebesar 90% (Dinkes Mataram, 2010).
Dari 9 Puskesmas yang berada di wilayah kota Mataram, Puskesmas Ampenan merupakan puskesmas yang cakupan imunisasi TT paling rendah dibandingkan dengan Puskesmas lainnya. Pada tahun 2010 Puskesmas Ampenan memiliki cakupan imunisasi TT1 sebesar 1164 orang (86,5%) dan TT2 sebanyak 1101 (81,8%) dari 1346 sasaran ibu hamil dan belum mencapai target imunisai yang ditentukan oleh Puskesmas Ampenan yaitu sebesar 90% (Dinkes Mataram, 2010)
Salah satu faktor yang mempengaruhi pemberian imunisasi yaitu pengetahuan ibu dimana tingkat pengetahuan akan mempengaruhi prilaku individu. Semakin banyak pengetahuan ibu tentang pentingnya kesehatan maka akan makin tinggi tingkat kesadaran ibu untuk berperan serta dalam kegiatan posyandu atau imunisasi (Depkes RI, 2007). Program imunisasi TT juga dapat berhasil jika ada usaha yang sungguh-sungguh dari orang yang memiliki pegetahuan dan komitmen yang tinggi terhadap imunisasi (Muhammad, 2002).
Oleh karena itu berdasarkan pada masalah diatas maka peneliti terdorong untuk mengetahui bagaimana gambaran pengetahuan  ibu hamil tentang pemberian imunisasi TT Di Puskesmas Ampenan tahun 2011.
B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi masalah adalah bagaimana gambaran pengetahuan ibu hamil tentang pemberian imunisasi TT  Di Puskesmas Ampenan tahun 2011?
C.   Tujuan Penelitian
1.    Tujuan umum:
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang pemberian imunisasi TT selama kehamilan.
2.    Tujuan khusus:
a.    Mengidentifikasi karakteristik ibu hamil ( umur, pekerjaan, paritas, pendidikan) di Puskesmas Ampenan tahun 2011
b.    Mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil tentang pemberian imunisasi TT selama kehamilan di Puskesmas Ampenan Tahun 2011.
D.   Manfaat Penelitian
1.    Manfaat bagi Peneliti
Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam merancang dan melaksanakan sebuah penelitian mengenai gambaran pengetahuan ibu hamil tentang pemberian imunisasi TT selama kehamilan.
2.  Manfaat bagi pendidikan
Dapat memberikan manfaat sebagai sumber bacaan serta tambahan  literatur yang dapat digunakan sebagai bahan acuan bagi peneliti selanjutnya.
3.    Manfaat bagi masyarakat
                  Meningkatkan kualitas pengetahuan ibu hamil tentang kesehatan khususnya tentang pemberian imunisasi TT selama kehamilan.

Rabu, 29 Juni 2011

TUHAN TAU SEMUA

TUHAN tau apa yang bibir ini tak bisa ungkapkan,,
TUHAN tau sakit yang tersimpan dalam hati ini,,,,
TUHAN juga tau,,bagaimana susahnya raga ini untuk bertahan,,,,
mencoba tepiskan semua sakit yg prnah ada,,,mencoba berpaling saat bayangan kelam menghampiri,,,
betapa susah semua ini ku lakukan,,,,

Aq mau semua berubah jadi yang ku mau,,
aq mau smua pahit jadi manis,,smua amarah jadi kasih,,,
tapi sayangnya aku tak punya kuasa,,,

ini takdir,,,dan apa manusia bisa melawan takdirnya????
ENTAHLAH,,,,,,,
tapi aku akan bertahan meskipun dengan raga yang mulai Rapuh.......

Jumat, 15 April 2011

KEHAMILAN EKTOPIK


A.    Pengertian
Kehamilan ektopik adalah suatu kehamilan yang berbahaya bagi wanita yang bersangkutan berhubung dengan besarnya kemungkinan terjadi keadan yang gawat.keadaan gawat ini dapat terjadi apabila kehamilan ektopik terganggu.
Kehamilan ektopik terganggu merupakan peristiwa yang dapat di hadapi oleh setip dokter, karna sangat beragamnya gambaran klinik kehamilan ektopi terganggu. Hal yang perlu di ingat ialah bahwa pada setiap wanita dalam masa reprodiksi dengan gangguan atau keterlambatan haid yang disertai dengan nyeri perut bagian bawah, perlu di fikirkan kehamilan ektopik terganggu.
Kehamilan ektopik adalah terjadi bila telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uterik. Kehamilan ekstrauterin tidak sinonim dengan kehamilan ektopik karma kehamilan pada pars interstisialis tubah dan kanalis servikalis masih termasuk dalam uterus, tetapi jelas bersifat ektopik.

B.     Etiologi
Etiologi kehamilan ektopik telah banyak  yang diselidiki tetapi sebagian  besar penyebabnya yang tidak diketahui.
Faktor-faktor yang memegang dalam peranan ini adalah sebagai berikut:
1.                  Faktor dalam lumen tuba
·         Endosalpingitis dapat menyebapkan perlekatan endosalping, sehingga lumen tuba menyempit atau membentuk kantong buntu
·         Pada hipoplasia uteri lumen tuba sempit dan berkeluk-keluk dan hal ini di sertai gangguan fungsi silia endosalping
·         Oprasi plastik tuba dan sterilisasi yang sempurna dapat menjadi sebab lumen  menjadi menyempit.


2.      Faktor pada dinding tuba
·         Endometriosis tuba dapat memudahkan implantasi telur yang dibuahi dalam tuba
·         Divertikel tuba kongenital atau ostium assesorius tubae dapat menahan telur yang dibuahi di tempat itu.
3.      Faktor diluar dinding tuba
·         Perlekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba dapat menghabat perjalanan telur
·         Telur yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tuba
4.      Faktor lain
·         Migrasi luar ovum yaitu perjalanan dari ovarium kanan ke tuba kiri atau sebaliknya dapat memperpanjang perjalan telur yang dibuahi ke uterus pertumbuhan telur yang terlalu cepat dapat menyebabkan implantasi premature.
·               Fertilasi in vitro

C.                Patologis
Proses implantasi ovum yang di buahi yang terjadi dituba pada dasarnya sama dengan halnya di kafum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau inter kolumner.Yang pertama btelur berimplantasi pada ujung  atau sisi jonjot endo salping.Selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini kemudian diresorbsi.Sedangkan intre kolumner telur bernidasi antara 2 jonjot endosalping.Setelah tempat nidasi tertutup, maka telur dipisahkan dari lumen tuba oleh lapisan jaringan yang menyerupai desidua yang dinamakan pseudokapsularis.

D.                Tanda dan gejala
1.      Perdarahan banyak yang tiba-tiba dalam rongga perut sampai terdapatnya gejala yang tidak jelas sehingga sukar membuat diagnosisnya
2.      Nyeri merupakan keluhan utama pada kehamilan ektopi terganggu.
3.      Perdarahan pervagina merupakan tanda penting kedua pada kehamilan ektopik terganggu
4.      Amenorea merupakan tanda yang penting.

E.     Diagnosis
Kesukaran membuat diagnosis yang pasti pada kehamilan ektopik belum terganggu demikian besarnya sehingga penderita mengalami abortus tuba atau rupture tuba sebelum keadaan menjadi jelas.Maka penderita segera dirawat di rumah sakit dengan alat Bantu ultrasonografik,laparaskopi atau kuldoskopi.
      Kehamilan ektopik terganggu pada jenis mendadak tidak banyak mengalami kesukaran,tetapi pada jenis menahun atau atipik bias sulit sekali.

F.     Penanganan
Dalam Penanganan kehamilan ektopik pada umumnya perlu diperhatikan  adalah sebagai berikut:
1.      Laparotomi
2.      kondisi pasien
3.      Fungsi reproduksinya
4.      Lokasi kehamilan ektopik
5.      Kondisi anatomi organ pelvis
6.      Kemampuan bedah mikro dokter operator
7.      Kemampuan Fertilisasi invitro setempat.








Daftar pustaka

            Hanifa  ,2002 ilmu kebidanan, Penerbit Bina Pustaka Cipta, 1976.Jakarta