Sabtu, 17 Desember 2011

CARSINOMA OVARIUM


I.           PENGERTIAN
Merupakan tumor ganas pada indung telur. Tumor ganas ovarium merupakan 20% dari semua keganasan alat reproduksi wanita (Sarwono, Ilmu Kandungan, 1999).

II.        ETIOLOGI
  •   Penyebab kanker ovarium tidak dikenal 
  •   Ciri pasien yang terbukti dengan peningkatan risiko untuk kanker ovarium epitel adalah :
-       Ras kulit putih menopause pada usia yang lebih tua. Riwayat kanker overium atau endometrium pada keluarga dan interval ovulasi yang panjang yang tidak disela oleh kehamilan.
-        Sekitar 1% dari kanker ovarium epitel adalah bawaan
-         Prevalensi kanker ovarium meningkat pada wanita yang tidak kawin yang para.
-  Zat etiologik dapat memasuki rongga pertionium melalui saluran genital bagian bawah. Contohnyapenggunaan talk yang terkontaminasi. Asites secara perineal telah dikaitkan dengan terjadinya kanker ovarium epitel.

III.     TINGKATAN
Sistem tingkatan dari FIGO untuk karsinoma primer dari ovarium (Federasi Ginekologi dan Obstetri Internasional, 1987).
Tingkat I         : Pertumbuhan terbatas pada ovarium-ovarium
Tingkat IA   : Pertumbuhan terbatas pada satu ovarium, asites tidak ada, tidak ada tumor pada permukaan luar, kapsul utuh.
Tingkat IB    : Pertumbuhan terbatas pada permukaan luar, asites tidak ada, tidak ada tumor pada permukaan luar, kapsul utuh
Tingkat IC     : Tumor tingkat IA dan IB, tetapi telah ada tumor pada permukaan luar dari salah satu atau kedua ovarium.
Tingkat II         : Tumor mengenai satu atau kedua ovarium disertai perluasan ke pelvis.
Tingkat IIA      : Meluas dan metastase ke uterus dan saluran telur.
Tingkat IIB     : Meluas ke jaringan pelvis lainnya
Tingkat IIC    : Tumor tingkat IIA atau IIB, tetapi telah ada tumor pada permukaan salah satu ataukedua ovarium.
Tingkat III      : Tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan pertumbuhan diperitonium luar pelvis dan kelenjar limfe retro peritonium atau inguinal positif, metastase dipermukaan hati sebanding tingkat III, tumor sebatas pada pervis minor tetapi kecil atau omentum.
Tingkat IIIA   : Tumor secara kasar terbatas dalam pelvis minor dengan kelenjar limfe negatif, tetapi secara histologi telah ada penyebaran mikroskopik ke permukaan peritonium abdomen.
Tingkat IIIB    : Tumor pada satu atau kedua ovarium yang secara histologis telah ada penyebaran ke permukaan peritonium abdomen, tidak ada yang berdiameter lebih dari 2 cm, kelenjar limfe negatif.
Tingkat IIIC    : Sebaran ke abdomen berdiameter lebih besar dari 2 cm dan kelenjar retroperitonium atau inguinal positif.
Tingkat IV      : Pertumbuhan melibatkan suatu atau kedua ovarium dengan metastase jauh : bila ada efusi pleura harus masuk tingkat IV, metastase parenkim hati sebanding tingkat IV.

IV.     GEJALA KEGANASAN OVARIUM STADIUM LANJUT
  • Teraba tumor diabdomen kistik atau padat 
  •   Pergerakan terbatas karena menyebar ke jaringan sekitar 
  •   Terdapat asites (cairan dalam abdomen) 
  •   Anak sebar dapat menyebabkan edema tungkai bawah 
  •   Tubuh bagian atas kurus dengan penampilan perut buncit.
V.        DIAGNOSIS
Diagnosis didasarkan atas 3 gejala atau tanam yang biasanya muncul dalam perjalanan penyakitnya yang sudah agak lanjut.
a.       Gejala desakan yang dihubungkan dengan pertumbuhan primer dan infiltrasi ke jaringan sekitar.
b.      Gejala diseminasi/penyebaran yang diakibatkan oleh implantasi peritoneal dan bermanifestasi sebagai defiminisasi, maskulinisasi dan bermanifestasi adanya asites.
c.   Gejala hormonal yang bermanifestasi sebagai defeminisasi, maskulinisasi atau hiperestrogenisme : intensitas gejala ini sangat bervariasi dengan tipe histologik tumor dan usia penderita.
Pemeriksaan ginekologik dan palpasi abdomen akan mendapatkan tumor, pemakaian USG, CT Scan, laparatomi eksploratif disertai biopsi potong beku masih tetap merupakan prosedur diagnostik paling berguna.

VI.     KOMPLIKASI
Obstruksi usus merupakan komplikasi yang sering terjadi.

VII.  PROGNOSIS
Tergantung dari usia dan terutama luas proses keganasan di samping jenis histologik tumornya. Pada kasus dengan tingkat klinik T1 dan T2, AKH-5 taun sekitar 60% - 70%. Pada kasus dengan tingkatan lebih lanjut (T2 dan T3) dengan paliasi yang memadai dapat dicapai AKH-5 tahun antara 30% - 60%, sedangkan T4 harapan hidup untuk 5 tahun praktis tidak ada (0%)

Sabtu, 10 Desember 2011

Pria Cuma Butuh 8,2 Detik Buat Jatuh Cinta

Mulai saat ini, bagi Anda para wanita sebaiknya berhati-hatilah jika seorang kawan pria Anda memperhatikan mata Anda lebih dari 8,2 detik. Pasalnya, sudah dipastikan jika pria tersebut menaruh hati pada anda. Hasil studi terbaru mengungkapkan, pria hanya memerlukan waktu 8,2 detik.
Untuk jatuh cinta pada pandangan pertama. Sebaliknya, jika kurang dari empat detik sang pria telah mengalihkan pandangannya, artinya dia tak tertarik pada wanita tersebut. Faktanya, memang semakin lama seorang pria memandang wanita, maka akan lebih besar rasa ketertarikan yang muncul. Demikian dilansir Times of India.
Namun lain halnya dengan wanita karena sulit untuk ditebak. Wanita masih bisa menyembunyikan perasaannya. Meskipun tak menyukai tatapan seorang pria wanita bisa bertahan untuk menatap balik lawannya hingga waktu yang sama pada pertemuan pertama.
Berdasarkan penelitian itu, untuk menarik perhatian wanita, pria sering melakukan kontak mata untuk mengetahui kecocokan dengan incarannya. Sedangkan wanita jarang melakukan kontak mata dan lebih hati-hati bersikap dan tidak mudah untuk jatuh cinta.
Para peneliti melakukan dengan menggunakan kamera tersembunyi untuk merekam aktivitas 115 murid ketika saat berbicara dengan pujaannya. Setelah itu, responden yang tertangkap kamera akan dimintai pertanyaan untuk menilai ketertarikan lawan bicara.
Hasilnya, rata-rata pria akan menatap pujaannya yang mereka anggap menarik secara dalam selama 8,2 detik. Namun ketika lawan bicara tidak menarik, hanya dalam 4,5 detik mereka langsung mengalihkan pandangannya.





sumber: igaul.com