TUHAN tau apa yang bibir ini tak bisa ungkapkan,,
TUHAN tau sakit yang tersimpan dalam hati ini,,,,
TUHAN juga tau,,bagaimana susahnya raga ini untuk bertahan,,,,
mencoba tepiskan semua sakit yg prnah ada,,,mencoba berpaling saat bayangan kelam menghampiri,,,
betapa susah semua ini ku lakukan,,,,
Aq mau semua berubah jadi yang ku mau,,
aq mau smua pahit jadi manis,,smua amarah jadi kasih,,,
tapi sayangnya aku tak punya kuasa,,,
ini takdir,,,dan apa manusia bisa melawan takdirnya????
ENTAHLAH,,,,,,,
tapi aku akan bertahan meskipun dengan raga yang mulai Rapuh.......
Rabu, 29 Juni 2011
Jumat, 15 April 2011
KEHAMILAN EKTOPIK
A. Pengertian
Kehamilan ektopik adalah suatu kehamilan yang berbahaya bagi wanita yang bersangkutan berhubung dengan besarnya kemungkinan terjadi keadan yang gawat.keadaan gawat ini dapat terjadi apabila kehamilan ektopik terganggu.
Kehamilan ektopik terganggu merupakan peristiwa yang dapat di hadapi oleh setip dokter, karna sangat beragamnya gambaran klinik kehamilan ektopi terganggu. Hal yang perlu di ingat ialah bahwa pada setiap wanita dalam masa reprodiksi dengan gangguan atau keterlambatan haid yang disertai dengan nyeri perut bagian bawah, perlu di fikirkan kehamilan ektopik terganggu.
Kehamilan ektopik adalah terjadi bila telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uterik. Kehamilan ekstrauterin tidak sinonim dengan kehamilan ektopik karma kehamilan pada pars interstisialis tubah dan kanalis servikalis masih termasuk dalam uterus, tetapi jelas bersifat ektopik.
B. Etiologi
Etiologi kehamilan ektopik telah banyak yang diselidiki tetapi sebagian besar penyebabnya yang tidak diketahui.
Faktor-faktor yang memegang dalam peranan ini adalah sebagai berikut:
1. Faktor dalam lumen tuba
· Endosalpingitis dapat menyebapkan perlekatan endosalping, sehingga lumen tuba menyempit atau membentuk kantong buntu
· Pada hipoplasia uteri lumen tuba sempit dan berkeluk-keluk dan hal ini di sertai gangguan fungsi silia endosalping
· Oprasi plastik tuba dan sterilisasi yang sempurna dapat menjadi sebab lumen menjadi menyempit.
2. Faktor pada dinding tuba
· Endometriosis tuba dapat memudahkan implantasi telur yang dibuahi dalam tuba
· Divertikel tuba kongenital atau ostium assesorius tubae dapat menahan telur yang dibuahi di tempat itu.
3. Faktor diluar dinding tuba
· Perlekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba dapat menghabat perjalanan telur
· Telur yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tuba
4. Faktor lain
· Migrasi luar ovum yaitu perjalanan dari ovarium kanan ke tuba kiri atau sebaliknya dapat memperpanjang perjalan telur yang dibuahi ke uterus pertumbuhan telur yang terlalu cepat dapat menyebabkan implantasi premature.
· Fertilasi in vitro
C. Patologis
Proses implantasi ovum yang di buahi yang terjadi dituba pada dasarnya sama dengan halnya di kafum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau inter kolumner.Yang pertama btelur berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot endo salping.Selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini kemudian diresorbsi.Sedangkan intre kolumner telur bernidasi antara 2 jonjot endosalping.Setelah tempat nidasi tertutup, maka telur dipisahkan dari lumen tuba oleh lapisan jaringan yang menyerupai desidua yang dinamakan pseudokapsularis.
D. Tanda dan gejala
1. Perdarahan banyak yang tiba-tiba dalam rongga perut sampai terdapatnya gejala yang tidak jelas sehingga sukar membuat diagnosisnya
2. Nyeri merupakan keluhan utama pada kehamilan ektopi terganggu.
3. Perdarahan pervagina merupakan tanda penting kedua pada kehamilan ektopik terganggu
4. Amenorea merupakan tanda yang penting.
E. Diagnosis
Kesukaran membuat diagnosis yang pasti pada kehamilan ektopik belum terganggu demikian besarnya sehingga penderita mengalami abortus tuba atau rupture tuba sebelum keadaan menjadi jelas.Maka penderita segera dirawat di rumah sakit dengan alat Bantu ultrasonografik,laparaskopi atau kuldoskopi.
Kehamilan ektopik terganggu pada jenis mendadak tidak banyak mengalami kesukaran,tetapi pada jenis menahun atau atipik bias sulit sekali.
F. Penanganan
Dalam Penanganan kehamilan ektopik pada umumnya perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
1. Laparotomi
2. kondisi pasien
3. Fungsi reproduksinya
4. Lokasi kehamilan ektopik
5. Kondisi anatomi organ pelvis
6. Kemampuan bedah mikro dokter operator
7. Kemampuan Fertilisasi invitro setempat.
Daftar pustaka
Hanifa ,2002 ilmu kebidanan, Penerbit Bina Pustaka Cipta, 1976.Jakarta
Kamis, 20 Januari 2011
Rautan Meja Kayu
Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya.
Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun.
Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu.
Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.
Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua
yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan
mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan.
Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah.
Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi
taplak.
Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan
semua ini.
"Kita harus lakukan sesuatu," ujar sang suami. "Aku sudah bosan
membereskan semuanya untuk pak tua ini."
Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut
ruangan.
Di sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya
menyantap makanan.
Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu
untuk si kakek.
Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak
sedih dari sudut ruangan.
Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Meski tak
ada gugatan darinya.
Tiap kali nasi yang dia suap, selalu ditetesi air mata yang jatuh dari
sisi pipinya.
Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak
menjatuhkan makanan lagi.
Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam. Suatu
malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang
memainkan mainan kayu.
Dengan lembut ditanyalah anak itu. "Kamu sedang membuat apa?".
Anaknya menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu, untuk
makan saatku besar nanti.
Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan."
Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka
tak mampu berkata-kata lagi.
Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada
kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang
harus diperbaiki.
Mereka makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat
ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda.
Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama. Dan anak itu, tak
lagi meraut untuk membuat meja kayu.
Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu
mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan
selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan.
Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain
dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa
kelak.
Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap "bangunan jiwa" yang
disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.
Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk
masa depan kita, untuk semuanya.
Sebab, untuk merekalah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada
orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.
Jika anak hidup dalam kritik, ia belajar mengutuk.
Jika anak hidup dalam kekerasan, ia belajar berkelahi.
Jika anak hidup dalam pembodohan, ia belajar jadi pemalu.
Jika anak hidup dalam rasa dipermalukan, ia belajar terus merasa
bersalah.
Jika anak hidup dalam toleransi, ia belajar menjadi sabar.
Jika anak hidup dalam dorongan, ia belajar menjadi percaya diri.
Jika anak hidup dalam penghargaan, ia belajar mengapresiasi.
Jika anak hidup dalam rasa adil, ia belajar keadilan.
Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar yakin.
Jika anak hidup dalam persetujuan, ia belajar menghargai diri sendiri.
Jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan, ia belajar mencari
cinta di seluruh dunia.
Betapa terlihat di sini peran orang tua sangat penting karena mereka
diistilahkan oleh Khalil Gibran
sebagai busur kokoh yang dapat melesatkan anak-anak dalam menapaki jalan
masa depannya.
Tentu hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan esok harus lebih
baik dari hari ini dan tentu kita selalu berharap generasi yang akan
datang harus lebih baik dari kita....
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia
dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.
Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur
lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan
kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia . Mengucapkan kata ah
kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan
kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.
(Al Israa' : 23)
Wass
Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya.
Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun.
Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu.
Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.
Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua
yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan
mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan.
Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah.
Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi
taplak.
Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan
semua ini.
"Kita harus lakukan sesuatu," ujar sang suami. "Aku sudah bosan
membereskan semuanya untuk pak tua ini."
Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut
ruangan.
Di sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya
menyantap makanan.
Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu
untuk si kakek.
Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak
sedih dari sudut ruangan.
Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Meski tak
ada gugatan darinya.
Tiap kali nasi yang dia suap, selalu ditetesi air mata yang jatuh dari
sisi pipinya.
Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak
menjatuhkan makanan lagi.
Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam. Suatu
malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang
memainkan mainan kayu.
Dengan lembut ditanyalah anak itu. "Kamu sedang membuat apa?".
Anaknya menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu, untuk
makan saatku besar nanti.
Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan."
Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka
tak mampu berkata-kata lagi.
Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada
kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang
harus diperbaiki.
Mereka makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat
ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda.
Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama. Dan anak itu, tak
lagi meraut untuk membuat meja kayu.
Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu
mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan
selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan.
Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain
dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa
kelak.
Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap "bangunan jiwa" yang
disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.
Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk
masa depan kita, untuk semuanya.
Sebab, untuk merekalah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada
orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.
Jika anak hidup dalam kritik, ia belajar mengutuk.
Jika anak hidup dalam kekerasan, ia belajar berkelahi.
Jika anak hidup dalam pembodohan, ia belajar jadi pemalu.
Jika anak hidup dalam rasa dipermalukan, ia belajar terus merasa
bersalah.
Jika anak hidup dalam toleransi, ia belajar menjadi sabar.
Jika anak hidup dalam dorongan, ia belajar menjadi percaya diri.
Jika anak hidup dalam penghargaan, ia belajar mengapresiasi.
Jika anak hidup dalam rasa adil, ia belajar keadilan.
Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar yakin.
Jika anak hidup dalam persetujuan, ia belajar menghargai diri sendiri.
Jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan, ia belajar mencari
cinta di seluruh dunia.
Betapa terlihat di sini peran orang tua sangat penting karena mereka
diistilahkan oleh Khalil Gibran
sebagai busur kokoh yang dapat melesatkan anak-anak dalam menapaki jalan
masa depannya.
Tentu hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan esok harus lebih
baik dari hari ini dan tentu kita selalu berharap generasi yang akan
datang harus lebih baik dari kita....
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia
dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.
Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur
lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan
kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia . Mengucapkan kata ah
kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan
kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.
(Al Israa' : 23)
Wass
Langganan:
Postingan (Atom)